Universitas Internasional Semen Indonesia
Mahasiswa Teknik Logistik Dukung Program Tol Laut

Ilustrasi kapal yang termasuk program tol laut – Antara/Kornelis Kaha

Mahasiswa program studi Teknik Logistik Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) diharapkan mampu berkontribusi dalam perkembangan logistik di Indonesia. Melalui sistem perkuliahan yang dilakukan baik di dalam kelas maupun di lapangan, mahasiswa dituntut mampu berfikir kritis mengenai permasalahan logistik yang ada. Dengan demikian, mahasiswa dapat menyalurkan ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan untuk mendukung program-program yang dibuat oleh pemerintah seperti program Tol Laut. “Sebagai mahasiswa teknik logistik seharusnya kita peka terhadap masalah dan perkembangan logistik yang ada di Indonesia. Sama halnya dengan revolusi industri yang selalu mengalami perkembangan. Industri 1.0 menggunakan tenaga air dan uap, industri 2.0 menggunakan listrik, industri 3.0 ICT, dan yang terbaru yaitu industri 4.0 menggunakan internet” ujar Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Logistik, Rizky Dyan Kusuma Andrean di UISI (15/09/2018).

Efek program tol laut yang menjadi andalan pemerintahan Jokowi-JK mulai terasa dengan adanya penekanan biaya logistik. Tol laut yang dimaksud adalah membangun transportasi laut dengan kapal atau sistem logistik kelautan yang melayani distribusi barang ke seluruh Nusantara. Program pemerintah ini bekerja sama dengan beberapa instansi seperti PT. Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI), Kementerian Perhubungan (Kemenhub), PT. Pelabuhan Indonesia (Pelindo) dan Pelayaran swasta.

Tol Laut yang mulai diresmikan oleh pemerintah pada Oktober 2015 ini sudah berkembang dengan sangat pesat. Pelaksanaan program yang pada awalnya hanya menggunakan 13 trayek pelayaran sudah bertambah menjadi sebanyak 15 trayek. “Dari 15 trayek tol laut yang dioperasikan tahun 2018, sebanyak 13 trayek dioperasikan khusus untuk wilayah Indonesia Timur dan 2 trayek lainnya ditugaskan untuk wilayah Barat Indonesia” tegas Direktur Lalu Lintas dan Angkatan Laut, Dwi Budi Sutrisno di Jakarta (4/4/2018).

Gagasan tol laut mampu mewujudkan Nawacita pertama yaitu memperkuat jati diri sebagai negara maritim dan Nawacita ketiga yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan. Hal ini terbukti dengan turunnya harga komoditas utama seperti bahan pokok, bahan bakar dan semen di Indonesia Timur seperti Papua. “Dari data yang kami peroleh dengan adanya tol laut ini lumayan ada penurunan dari harga komoditas, di Wamena harga semen dari Rp.500.000,00 menjadi Rp.300.000,00 per sak” ucap Agus Purnomo, Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub. Tol Laut ini menjadi cara mulia pemerintah untuk mendukung efisiensi bidang logistik demi menekan disparitas harga yang masih tinggi di Indonesia. (pam/kdf)